Senin, 06 Juni 2011

Tempe goreng keriting


Bisa jadi ini adalah kali pertama anda mendengar makanan ini. Tentu saja! Sssst...sebenernya ini rahasia. Ini rahasia resep dapur pribadi saya. Hihihihi...


Rasanya gurih, renyah, dan pastinya lezaaaat...karena dimasak dengan hati yang ikhlas (cwit...cwit...!)

Sebenarnya, resep tempe goreng keriting ini adalah gabungan resep antara tempe goreng dengan kremes. Tapi ga tau kenapa kremesnya ga bisa seperti kremes yang biasa ada di warung tenda langgananku. Akhirnya, jadilah resep baru ini!

Udah ga sabar cooking? Okay saudara-saudara, mari kita sudahi saja! Maksud saya, mari kita mulai resep perdana saya,

Tempe Goreng Keriting

Bahan2    :

  • Tempe            4 potong
  • Tepung kanji         2 ½ sdm
  • Tepung beras        ½ sdm
  • Telur             1 butir
  • Roy*o/masa*o rasa ayam
  • Bawang putih
  • Garam
  • Minyak untuk menggoreng
  • Air secukupnya

Cara membuat :

  • Larutkan 1 sdm tepung kanji dalam 1 gelas air (200cc), rebus hingga berubah menjadi bening. Angkat.
  • Larutkan 1 ½ sdm tepung kanji, ½ sdm tepung beras, kunning telur, roy*o/masa*o ke dalam 1 ½ gelas air (300cc). Pastikan asinnya sesuai dengan selera anda. Masukkan tepung kanji yang sudah direbus. Aduk sampai bercampur.
  • Haluskan bawang putih, ketubar, dan garam. Beri sedikit air. Masukkan potongan tempe ke dalam larutan bumbu. Pastikan bumbunya meresap.
  • Panaskan minyak goreng yang banyak dengan api sednag. Masukkan tempe yang sudah dibumbui saat minyak benar-benar panas. Tunggu sampai bagian bawah tempe berwarna kecokelatan. Balik agar tidak gosong. Setelah 5 detik (ini harus tepat, anda bisa menghitung dalam hati, atau keras-keras jika mau :-D), masukkan larutan tepung dengan sendok sayur di atas tempe. Jangan masukkan semua jika terlihat penuh (hm...agak sulit ini, faktor feeling sangat penting di sini). Jangan kaget, suaranya memang sangat gaduh dan buihnya banyak sekali. Jadi tidak disarankan memasak tempe goreng keriting ini di tengah malam (hahhahaha). Hati-hati juga anda bisa kena cipratan minyak. Jadi berdiri agak jauh dari penggorengan anda.
  • Saat buihnya hilang, kumpulkan kremes ke tengah agar menempel di tempe. Angkat setelah warnanya kecokelatan. Sajikan.

Untuk 1 orang.

Saran penyajian : hidangkan dengan sambal tomat istimewa (resepnya next postingan dwehh).

Selamat mencoba...

sarapan

Sarapan atau makan pagi, aktivitas rutin beberapa orang di kantor saya. Hampir tiap orang melakukannya, hanya makanannya saja yang berbeda. Sebagian ada yang memilih nasi uduk sebagai menu sarapan, ada juga yang ke-bule2an dengan sarapan roti, tapi yang paling menarik adalah yang sarapan bekal dari rumah hasil karya isteri tercinta...(wuih..so sweet...). Kenapa? Karena tanpa mereka bilang pun, dari cara makan mereka menunjukkan bahwa mereka sangat puas dan bangga dengan masakan isterinya... contohnya saja pak ardi. Pria yang mejanya berhadapan langsung dengan mejaku ini tengah menikmati sarapan yang dia bawa dari rumah. Dari aromanya...hm...kayaknya uenakkkk banget. Hihihiihi..

duh...jadi keinget suami, udah disiapin sarapan sih..tapi dapet dari beli... abisss.. kalo bikin sarapan sering kesiangan ke kantornya...hehehhe... tapi aku berjanji, aku akan berusaha bikinin sarapan buat suamiku tercinta besok! \('_')/

Minggu, 05 Juni 2011

tea

Sebenarnya saya ingin menuliskan "teh" sebagai title tulisan ini. Akan tetapi takut terjadi kerancuan makna. Maksud saya adalah minuman yang barbahan dasar daun teh, bukan teh sebutan untuk wanita dalam bahasa sunda (hallahhh! Aya-aya wae..).

Tradisi minum teh yang sangat terkenal adalah di jepang. Di jepang ada upacara minum teh yang biasanya ditujukan untuk tamu. Berikut ini hasil kutipan saya dari wikipedia;

Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (chashitsu) dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran upacara minum teh yang dianut.

Nah, itu di jepang. Tradisi minum teh yang tak kalah terkenalnya adalah di Yogyakarta, khusunya di Gunungkidul pesisir selatan. Saya sendiri sampai sekarang masih heran, kenapa di daerah yang tanaman teh tidak tumbuh justru masyarakatnya "nggathok" teh. ::nggathok adalah istilah dalam bahasa jawa yang seneng beradddd!:: ada perbedaan yang sangat besar dari segi rasa dan cara penyajian. Saya sendiri sebenarnya berasal dari gunungkidul sebelah utara, yang mana masyarakatnya tidak begitu nggathok teh, tapi suami saya yang berasal dari pesisir selatan gunungkidul sudah sangat beda tradisi minum teh-nya.

Di daerah saya, Nglipar, orang minum teh dengan kadar kepekatan rendah (hallah!), rasanya manis dengan gula pasir, dan disajikan satu gelas penuh (gelas 200cc terisi ¾ bagian). Teh diseduh dengan air panas (bisa dari termos) dalam sebuah teko. Cara membuatnya, gelas yang bersih diberi gula pasir ± 2 sendok gula, kemudian gelas diisi dengan air panas hingga ½ nya, diaduk hingga gula larut, setelah itu dituanglah seduhan teh yang masih panas ataupun sudah dingin. Jadilah minuman teh yang berwarna kuning kecoklatan.

Berbeda dengan tradisi di tempat suami saya, Playen, khususnya di Gembol, Teh diseduh dengan air mendidih (tidak diperbolehkan dengan air dari termos) dalam teko kecil (kebanyakan dari tanah atau keramik), sebelum dipakai untuk menyeduh, teko disiram dan diisi dengan air panas sampai teko tersebut berasa panas. Begitu juga dengan gelas yang akan dipakai untuk menuang teh. Setelah itu, teh dengan takaran tertentu ditaruh didalam teko. Kemudian teko diisi dengan air panas yang masih mendidih dengan takaran tertentu. Setelah beberapa menit, teh tersebut dituang ke dalam gelas yang sudah berisi gula (paling bagus dengan gula batu). Air dituang setengah gelas 200cc, jadi hanya sekitar 100cc. Diaduk sebentar, tidak samapi larut, baru kemudian siap untuk diminum. Sebagai catatan, masyarakat di Gunungkidul khususnya di daerah pesisir selatan, kurang menyukai teh celup. Mereka lebih menyukai teh tabur. Itupun hanya merk-merk tertentu, seperti Teh Jawa bungkus kuning, teh Pecut, dan teh super. Jika tidak terpaksa, mereka akan menghindari merk lain.

Saya sudah lebih dari 2 tahun ini belajar membuat teh ala pesisir Gunungkidul, tetapi sampai detik ini saya belum bisa mempunyai cita rasa yang sama. Kalau ngga terlalu bening, kurang manis, terlalu manis, ngga panas, atau terlalu keruh. Anda harus mencoba dan membuktikan sendiri!

Cita-citaku

Setiap orang pasti punya cita-cita, karena cita-cita selalu ditanyakan oleh pak guru/bu guru ketika kita kelas 1 SD :-D. Jutaan hayalan muncul dalam benak anak usia 4 - 10 tahun. Saya sendiri waktu masih TK ditanyain mau jadi apa, dengan percaya diri saya jawab "jadi dokter bu...!". dan seingat saya, lebih dari separo kelas bercita-cita jadi dokter. Cita-cita lain yang banyak diminati adalah polisi, tentara, guru, perawat, presiden, menteri dan pilot.

Setelah masuk SD, pengetahuan saya semakin luas (hahhaha), dan dengan mantab saya bertekad untuk merubah cita-cita saya. ASTRONOT. Yup! Saya ingin dan sangat ingin jadi astronot. Keren aja bisa terbang ke bulan. Dan waktu itu, planet yang pertama kali ingin saya kunjungi adalah Mars, karena saya ingin bertemu dengan alien. Hahahahha! Setelah kemampuan berpikir jernih saya muncul, akhirnya saya berganti cccita-cita lagi menjadi SEKRETATIS. Hahahhaha! Menjelang lulus SMP, cita-cita saya akhirnya berubah menjadi PROGRAMMER. Dan itu bertahan lebih lama dari cita-cita saya untuk menjadi astronot.

Demi menjadi programmer yang handal (ciehh..), saya memilih masuk SMK dengan jurusan teknik informatika. Waktu itu, jurusan IT hanya dimiliki STM. Otomatis saya jadi sekolah di STM, yang akhirnya berimbas pada ketidakmampuan saya sekarang dalam "memoles" diri. Hahhahah..

Sedikit melenceng dari jalur utama, IT, ketika kuliah saya justru mengambil jurusan Teknik Elektronika. Masa-masa sulit adalah di awal perkuliahan. Sempat kecewa, pengen berhenti, tapi mengingat biaya masuk kuliah sedemikian besar, akhirnya saya lanjutkan saja. Toh IPK saya tidak jelek walopun setengah hati di jurusan ini.

Guru. Sempat menjadi cita-cita saya. Walaupun sejujurnya saya tidak berminat, akhirnya saya ambil kuliah kependidikan pasca lulus diploma 3. Untung selesai dalam waktu kurang dari 2 tahun. Kalo engga, bisa pingsan karena bosan. Saat kulih, KKN, PPL inilah akhirnya saya kenali diri saya, bahwa saya TIDAK INGIN MENJADI GURU. Yah...setidaknya untuk saat ini. Mengingat, cita-cita saya berubah-ubah sejak umur 5 tahun. Namun orang tua tetap berharap saya bisa jadi guru. Hh...tapi ini adalah hidup saya. Biarlah saya yang menentukan. Untunglah suami saya mendukung setiap gerak langkah saya (saya menikah 7 bulan sebelum lulus kuliah).

Dan sekarang, terdampar di kota kecil dipinggiran kota hujan, saya mencoba-coba karir. Jadi buruh di perusahaan yang kepemilikan sahamnya sebagian besar milik orang jepang. Dengan berbekal ijazah teknik elektronika saya mencoba menerjunkan diri di dunia yang saya sempat kenal waktu SMK, IT. Saya tidak se-expert rekan-rekan saya di IT. Saya juga tidak pandai coding, programming, atau bikin syntax yang alamaaaak...susah. tapi mungkin ada sesuatu dalam diri saya yang membuat perusahaan ini mau sedikit berbagi rezeki kepada saya (alias mau menggaji), semoga. Hehhehehe..

Jadi apa kesimpulannya?

Ternyata, tidak semua yang kita igninkan bisa tercapai. Kita bisa saja bercita-cita jadi astronot, tapi kadang jalan lain yang lebih indah telah dipersiapkan Tuhan kepada kita. Namun demikian, bukanlah hal yang tidak mungkin cita-cita kita bisa menjadi kenyataan, contohnya saja teman saya, dari TK dia bercita-cita menjadi guru, akhirnya sekarang dia berhasil menjadi guru. Yah..intinya kita harus tetap berusaha. Jadi, apa cita-citamu?

Kamis, 02 Juni 2011

Tentang saya,

Hm..ini adalah postingan saya yang pertama. Mo belajar bikin blog. Yah..buat "menghancurkan" kebosanan ajah...