Sebenarnya saya ingin menuliskan "teh" sebagai title tulisan ini. Akan tetapi takut terjadi kerancuan makna. Maksud saya adalah minuman yang barbahan dasar daun teh, bukan teh sebutan untuk wanita dalam bahasa sunda (hallahhh! Aya-aya wae..).
Tradisi minum teh yang sangat terkenal adalah di jepang. Di jepang ada upacara minum teh yang biasanya ditujukan untuk tamu. Berikut ini hasil kutipan saya dari wikipedia;
Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (chashitsu) dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran upacara minum teh yang dianut.
Nah, itu di jepang. Tradisi minum teh yang tak kalah terkenalnya adalah di Yogyakarta, khusunya di Gunungkidul pesisir selatan. Saya sendiri sampai sekarang masih heran, kenapa di daerah yang tanaman teh tidak tumbuh justru masyarakatnya "nggathok" teh. ::nggathok adalah istilah dalam bahasa jawa yang seneng beradddd!:: ada perbedaan yang sangat besar dari segi rasa dan cara penyajian. Saya sendiri sebenarnya berasal dari gunungkidul sebelah utara, yang mana masyarakatnya tidak begitu nggathok teh, tapi suami saya yang berasal dari pesisir selatan gunungkidul sudah sangat beda tradisi minum teh-nya.
Di daerah saya, Nglipar, orang minum teh dengan kadar kepekatan rendah (hallah!), rasanya manis dengan gula pasir, dan disajikan satu gelas penuh (gelas 200cc terisi ¾ bagian). Teh diseduh dengan air panas (bisa dari termos) dalam sebuah teko. Cara membuatnya, gelas yang bersih diberi gula pasir ± 2 sendok gula, kemudian gelas diisi dengan air panas hingga ½ nya, diaduk hingga gula larut, setelah itu dituanglah seduhan teh yang masih panas ataupun sudah dingin. Jadilah minuman teh yang berwarna kuning kecoklatan.
Berbeda dengan tradisi di tempat suami saya, Playen, khususnya di Gembol, Teh diseduh dengan air mendidih (tidak diperbolehkan dengan air dari termos) dalam teko kecil (kebanyakan dari tanah atau keramik), sebelum dipakai untuk menyeduh, teko disiram dan diisi dengan air panas sampai teko tersebut berasa panas. Begitu juga dengan gelas yang akan dipakai untuk menuang teh. Setelah itu, teh dengan takaran tertentu ditaruh didalam teko. Kemudian teko diisi dengan air panas yang masih mendidih dengan takaran tertentu. Setelah beberapa menit, teh tersebut dituang ke dalam gelas yang sudah berisi gula (paling bagus dengan gula batu). Air dituang setengah gelas 200cc, jadi hanya sekitar 100cc. Diaduk sebentar, tidak samapi larut, baru kemudian siap untuk diminum. Sebagai catatan, masyarakat di Gunungkidul khususnya di daerah pesisir selatan, kurang menyukai teh celup. Mereka lebih menyukai teh tabur. Itupun hanya merk-merk tertentu, seperti Teh Jawa bungkus kuning, teh Pecut, dan teh super. Jika tidak terpaksa, mereka akan menghindari merk lain.
Saya sudah lebih dari 2 tahun ini belajar membuat teh ala pesisir Gunungkidul, tetapi sampai detik ini saya belum bisa mempunyai cita rasa yang sama. Kalau ngga terlalu bening, kurang manis, terlalu manis, ngga panas, atau terlalu keruh. Anda harus mencoba dan membuktikan sendiri!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar